Its me, KAGE
Wattpad
Thursday, September 13, 2018
Tuesday, August 8, 2017
Review : Spiderman Home Coming
Jadi setelah menunggu sekian lama, akhirnya balik lagi si jagoan ini ke Marvel. Konon katanya sih yaa judul "Home coming" ini kaya bentuk apresiasi si jagoan balik lagi ke Mavel. So, sangat ditunggu dong pastinya~
Berikut ini adalah review berdasarkan opini gua, dalam bentuk point per point.
1. Karena gua ngeliat ini ada kaya kolaborasi antara film Spiderman (2002) dan The Amazing Spiderman (2012) didalam ceritanya.
Kalo dulu kita ngeliat Spiderman (2002) itu kita pertama kali ngeliat spiderman, kenapa tercipta tokoh spiderman menurut (versi 2002), kehebatannya spiderman, trus selesai nonton rasanya kaya wah bagus bgt film spiderman ini, karena kita baru pertama kali ngeliat.
Trus muncul The Amazing Spiderman (2012) yang kalo gua gasalah ceritanya ini diambil dari versi komik, yang peter parkernya lebih muda, masih anak sekolah, dan dia ga digigit laba-laba melainkan kekuatan supernya berasal dari sebuah alat.
Dan yang terjadi di film Spiderman Homecoming adalah semuanya digabungin, beberapa adegan khas dari film sebelumnya dimasukin dengan pengemasan yang beda, dan juga berupa twist.
Dan kita semua udah tau lah kalo film garapan MCU itu kerennya kaya apa dan juga ceritanya ngambil dari sisi komik juga. alhasil ini film udah pasti keren pake banget.
2. Jon Watts ternyata berhasil menciptakan warna baru, karakter super hero baru diluar dari phase 1 dan phase 2 MCU.
Sebelum gua nonton sempet mikir "ah paling karakternya sama nih kaya tony stark, slengean gitu" karena menurut gua karakter spiderman (2012) slengeannya kaya tony stark gitu. Tapi ternyata engga, Jon Watts berhasil membuat warna baru yang ketika penonton tau itu siapa, penonton bisa bilang ooh ini tony stark dan ini peter parker.
3. Beruntung lah Spiderman sudah gabung dengan MCU, karena dengan begini si Spiderman bisa bertemu dengan tokoh super hero yang lain.
Yang bikin film Spiderman ini berbeda dengan film Spiderman yang sebelumnya menurut gua karena ketemu sama Iron man. Coba bayangin kalo si peter parker ga ketemu sama Tony stark di film Spiderman Homecoming, ga ada bedanya sama film Spiderman, Spiderman 2, Spiderman 3, The Amazing Spiderman, The Amazing Spiderman2, gitu gituu ajaa udah terus~ Mungkin juga ini salah satu formula yang dibikin di film ini.
Di Civil war super hero phase 1 dan phase 2 udah pada ketemu. Spiderman juga udah rilis. The Avenger Infinity war, yang katanya semua pahlawan super bakal ngelawan Thanos nanti akan rilis. Yang gua pikirkan akankah MCU turun gunung kah bang setelah mereka berhasil naik gunung dengan awalan film Iron Man (2008)? Karena menurut gua puncaknya ada di Avenger Infinity war. Apa film pahlawan super di phase selanjutnya penontonnya bakal serame phase-phase sebelumnya? Menurut kalian gimana? Silahkan komentar kalo kalian punya opini sendiri.
Sunday, December 6, 2015
PSIKO (Cerita Pendek)
Karakter yang akan saya buat adalah karakter Psikopat, yang dimana Psikopat sendiri adalah karakter yang mempunyai penyakit jiwa, tetapi sangat beda dengan istilah Gila, karena dia melakukannya masih dalam keadaan sadar.
Dia
sangat suka dengan lagu lagu classic. Karakter yang saya ciptakan juga masih
sekitar umur 20 – 22 tahun. Dia juga masih berkuliah. Dia mempunyai masalah
dengan orang-orang yang menunjukan rasa kemesraan yang berlebihan dihadapannya.
Karena dulu dia pernah mempunyai pengalaman yang buruk dalam cerita cintanya. Setiap
ada orang yang bermesraan, selalu saja dia bantai, tentunya dengan rencana yang
sangat panjang. Dan ketika sudah saatnya membunuh, dia paling suka ketika
korbannya diikat dan disiksa, lalu dikuliti secara perlahan. Tetapi korbannya
masih dalam keadaan hidup, dan tentunya dengan mendengarkan lagu lagu klasik
era 90-an. Dan setelah korbannya dikuliti, dia memulai dengan memotong bagian
tubuhnya satu persatu didepan pasangannya, itulah yang menurut dia hal yang
paling romantic yang dia paling suka. Sampai pada akhirnya dia sudah tidak
membunuh pasangan lagi ketika dia sudah mulai merasakan jatuh cinta pada
seorang gadis. Dia pun menyesal karena menurut dia orang-orang yang sudah
dibunuh itu adalah orang-orang yang sedang merasakan nikmat dari tuhan, tentu
saja karena dia baru merasakan jatuh cinta kembali. Tetapi pada suatu hari dia
melihat gadis yang dicintainya itu sedang bermesraan dengan pria lain, yang
ternyata mereka adalah sepasang kekasih yang sudah menjalin cinta sudah lama
dan takut dibunuh si Psikopat, maka dari itu salah satu diantara mereka ada
yang mendekati si Psikopat untuk menghilangkan pembunuhan bagi
pasangan-pasangan yang ada disana pada saat itu. Sejak saat itu pula sifatnya
yang selama ini dia pendam sebagai Psikopat pun keluar lagi, bahkan sekarang
lebih parah, karena dia lebih sakit hati lagi. Dan sampai suatu saat si Psikopat
tidak pernah terlihat lagi, bersamaan dengan pasangan-pasangan yang ada pada
saat itu.
Sunday, November 29, 2015
Film Hitman : Agent 47
Film
action barat berjudul “Hitman: Agent 47” ini merupakan film yang menceritakan
seorang pria yang diciptakan dari sebuah rekayasa genetik dan sempurna yang
dijadikan sebagai mesin pembunuh. Agen 47 ( Rupert Friend ) ini hanya dikenal
dan disebut dengan agen 47 karena barcode tato yang terdapat pada kepalanya.
Agen
47 diciptakan dari hasil puluhan tahun penelitian dan kloning dari agen
sebelumnya yang memiliki kekuatan, kecepatan, stamina dan integritas di atas
rata-rata manusia normal. Agen 47 memiliki target untuk mencari Katia van Dees
( Hannah Ware ) yang merupakan putri dari orang yang menciptakan ‘The Agent
Program’. John Smith ( Zachary Quinto ) yang tahu akan hal tersebut pun
berusaha untuk melindungi dan menyelamatkan Katia.
Problem
yang terjadi pada film ini adalah pada tokoh Katia van Dees, yang sebenarnya
dia juga merupakan satu dari sebuah rekayasa genetik sempurna, tetapi dia
selama ini melawan terhadap apa yang dia rasakan. Dan pada akhirnya dia bisa
memakai kemampuannya itu juga untuk menghadapi orang-orang yang mau menculiknya
dalam perjalanan mencari ayahnya, yaitu orang yang menciptakan para Agent.
Sunday, November 15, 2015
Taman Ismail Marzuki
Pada
kali ini saya akan mengeksplorasi sebuah tempat, yang saya pilih bukan sebuah
daerah besar diluar Jakarta. Bukan sebuah tempat juga yang dikelilingi
perbukitan dan hutan lebat. Tempat yang akan saya ingin ceritakan adalah Taman
Ismail Marzuki.
Saya
tertarik pada tempat ini karena menurut saya tempat ini beda dari pada yang
lain. Tempat yang asik buat ngobrol, buat sekedar bersantai, karena banyak
sekali spot di Taman ismail Marzuki ini yang sangatlah cocok untuk dikunjungi. Mulai
dari yang suka kuliner mungkin didepan dari Taman ismail Marzuki sendiri
didaerah cikini terdapat banyak tempat makan ketika malam hari tiba. Lalu mungkin
ada yang suka dengan film, didalam TIM sudah ada XXI. Atau untuk yang suka duduk
sambil ngobrol atau mencari inspirasi, didepan gedung teater besar terdapat
sebuah halaman yang lumayan luas, dan nyaman untuk dijadikan tempat ngobrol. ada juga tempat untuk yang suka dengan dunia Astronomi, tempat khusus yang djadikan tempat wisata itu dibagian depan TIM yaitu bernama Planetarium. Dan
juga terdapat sebuah institute yang ingin mendalami dalam hal segi seni apapun,
yaitu Institut Kesenian Jakarta. TIM juga memiliki
enam teater modern, balai pameran, galeri, gedung arsip, dan bioskop.
Acara-acara seni dan budaya dipertunjukkan secara rutin di pusat kesenian ini,
termasuk pementasan drama, tari, wayang, musik, pembacaan puisi, pameran
lukisan dan pertunjukan film. Berbagai jenis kesenian tradisional dan
kontemporer, baik yang merupakan tradisi asli Indonesia maupun dari luar negeri
juga dapat ditemukan di tempat ini.
Sedikit
sejarah saja, Taman ismail Marzuki diresmikan pembukaannya oleh Gubernur
Pemerintah Daerah Propinsi DKI Jakarta Jenderal Marinir Ali Sadikin, tanggal 10
November 1968. TIM dibangun di atas areal tanah seluas sembilan hektare. Dulu
tempat ini dikenal sebagai ruang rekreasi umum ‘Taman Raden Saleh’ (TRS) yang
merupakan Kebun Binatang Jakarta sebelum dipindahkan ke Ragunan. Pengunjung
‘TRS’ selain dapat menikmati kesejukan paru-paru kota dan melihat sejumlah
hewan, juga bisa nonton balap anjing di lintasan ‘Balap Anjing’ yang kini
berubah menjadi kantor dan ruang kuliah mahasiswa fakultas perfilman dan
televisi IKJ. Ada juga lapangan bermain sepatu roda berlantai semen. Fasilitas
lainnya ialah dua gedung bioskop, Garden Hall dan Podium melengkapi suasana
hiburan malam bagi warga yang suka nonton film. Tetapi sejak 37 tahun lalu
suasana seperti itu tidak lagi dapat ditemukan. Khususnya setelah pak Ali
menyulap tempat ini menjadi Pusat Kesenian Jakarta TIM.
Tampak Samping
Tampak Samping
Tampak Depan
Tampak depan
Tampak Depan
Teater Kecil
Teater Kecil
Mungkin ini saja yang bisa saja bagikan di blog ini, Terima Kasih.
Sunday, October 4, 2015
Biografi
Nama saya Gholzar Harizt. Saya lahir
di Jakarta tanggal 11 Juni 1994, tepat pada malam 1 Muharram. Entah merasa special
atau tidak tetapi saya senang saja, karena saya lahir pada saat tahun baru
islam. Saya lahir disebuah Bidan didaerah Jakarta. Ayah saya Zakaria Rachmat
asli Pekalongan, Jawa Tengah. Dan Ibu saya Tati Hartati asli Tegal, Jawa
Tengah. Jadi kalau kami pulang kampong pada saat lebaran itu kampungnya
bersebelahan. Waktu kecil saya bersekolah di Sekolah Dasar Islam Darunnajah. Dari
tahun 2000 sampai pada tahun 2009. Saya belum punya kisah apa-apa waktu di
Sekolah Dasar, kecuali hafalan surat-surat pendek Al-quran. Dari Sekolah Dasar
saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama 161 Sekolah Standar Nasional
Jakarta Selatan. Suatu kebanggaan untuk orang tua saya, karena pada jaman itu
untuk melanjutkan step dari sekolah swasta ke sekolah negeri sangatlah susah
dan peluangnya kecil.
Selain terkenal dengan prestasinya SMP saya juga sering
tawuran. Dikenal sebagai sekolah yang disegani di Jakarta Selatan pada
jamannya. Karena biasanya kebanyakan anak yang ada d SMP ini di tes
keberaniannya dengan berkelahi man to man
secara bergantian. Tetapi tidak semua anak yang ada di basis seperti itu,
termasuk salah satunya saya. Ya saya termasuk yang pendiam. Walaupun pada
akhirnya saya sempat nakal juga dan hampir tidak naik kelas pada kelas 2 SMP. Dan
ketika kelas 3 SMP saya mendapatkan teman-teman yang hampir benar, mungkin
karena sudah kelas 3 dan ingin Ujian Nasional, jadi mau tidak mau kami harus
kembali ke jalan yang benar. Hampir selama satu tahun kami bermain bersama, dan
kami harus berpisah karena pendidikan yang kami tempuh di SMP sudah selesai. Lalu
setelah itu saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas 101 Jakarta Barat. Alasan
saya simple mengapa saya memilih SMA ini, karena angkanya yg ditengah itu unik
pergantian dari 161 ke 101.
Dari pertama kali masuk pun hanya saya yang berasal
dari SMP 161 JakSel, saya tidak punya teman. Dengan datang pagi-pagi buta
melihat kaka-kaka yang bersiap untuk MOS, saya memberanikan diri untuk
berkenalan dengan salah satu anak baru, dan sayangnya itu cowok, jadi saya
terkesan aneh ketika saya berkenalan dengan dia. Dari awal SMA pun saya
mengenal Teater. Saya mengikuti ekskul Teater dari kelas 1. Latihan tiap hari,
pulang malam, ditelfon orang tua, dimarahi orang tua, ngeliatin teman ada yang
kesurupan malam malam, sampai dukunciin dilantai 2 akibat terlalu malam untuk
selesai latihan, dan akhirnya sampai diganggu oleh makhluk-makhluk penunggu
sekolah. Asam manis pahit sudah saya lewati di grup teater sma saya. Kehilangan
teman-teman karena banyak yang dimarahi, karena malas, karena alasan lain, itu
sudah sering. Tapi entah kenapa saya tidak punya alasan untuk bertahan di grup
teater saya. Sampai pada akhirnya saya kecewa dengan salah satu senior di grup
tersebut, karena masalah cewe. Itu kejadiannya pada saat DIKLAT ALAM terakhir
di grup teater kami. Dan setelah saya kelas 3 saya mengharuskan diri untuk lagi
lagi focus ke Ujian Nasional dan lagi lagi kembali ke jalan yang benar. Sungguh
mengecewakan, tetapi saya tahu Tuhan selalu punya rencana. Salah satu mata
pelajaran mendapatkan nilai 3. Pada hari itu saya sangat patah semangat. Saya seakan
merasa sangat menyesal sekali. Tetapi saya disupport oleh teman teman saya, dan
akhirnya saya bisa melanjutkan untuk kuliah di Universitas Mercu Buana jurusan
Broadcasting.
Dan lagi-lagi saya memutuskan untuk mengikuti Unit Kegiatan
Mahasiswa yang berbau Teater. Tetapi di grup teater kampus saya merasakan yang
sebenar benarnya Teater. Disini lebih kejam, tapi membuat pintar. LATIHAN dan
RAPAT, itu kesan yang masih membekas dikepala saya sampai saat ini untuk UKM
tersebut. Saya merasa berterima kasih kepada beberapa abang-abang dan kaka-kaka
yang sudah membuat saya semakin pintar. Akhirnya dengan bekal ilmu yang saya
dapat dikampus saya kembali lagi ke grup teater SMA yang kondisinya sangat
mengkhawatirkan. Akhirnya setelah mengobrol dengan anak sisaan yang bertahan di
grup tersebut, kami memutuskan untuk mengikuti proses Festival kembali, dibantu
oleh sahabat saya Friska dan Aftah. Saat itu kami benar-benar hanya bertiga
untuk menggarap mereka semua. Proses Festival Teater SLTA ke-24 pun telah kami
lewati, tetapi kami belum mendapatkan apa-apa, kami hanya mendapatkan
pengalaman dan beberapa teman teman teater. Dan kami bertiga akhirnya diakui di
grup tersebut oleh para senior-senior kami. Tidak berhenti sampai disitu,
difestival selanjutnya di Festival Teater SLTA ke-25 kami mengikutkan diri
kembali. Kali ini suka duka saya pribadi lebih banyak, ketika diawal proses
kedua sahabat saya sedang sibuk-sibuknya mengurusi urusan yang lain. Ketika hari
kurasi dimulai, ini pertama kalinya saya berangkat seorang diri tanpa kedua
sahabat saya. Sedih memang, rasanya saya yang paling tua diantara para
adik-adik sma, tetapi tanggung jawab sudah ditangan, sebagai seorang sutradara
saya harus terus berjuang sampai akhir. Ketika pengumuman kurasi pun saya harus
mencari uang ke Jogja dengan teman saya. Yang datang adalah mereka para
adik-adik teater SMA. Dan Alhamdulillah kami bisa lolos ke final lagi. Dan Alhamdulillah
pada tahun ini, pada FTS ke-25 ini, kami mendapatkan kepercayaan untuk
mendapatkan sebuah piala, pemenang Tata Rias Terbaik se-Jabodetabek. Mungkin piala
ini adalah bukti dari grup kami yang telah berjuang selama 6 tahun, dan
setelahnya kami baru bisa mendapatkan sebuah piala.
Mungkin itu saja yang bisa saya
ceritakan untuk biografi saya, bila ada cerita yang saya ingat lagi, saya akan
ketik lagi, terima kasih.
Sunday, September 20, 2015
Linus Suryadi
Linus Suryadi merupakan anak kedua dari sepuluh bersaudara yang berasal dari keluarga petani Jawa. Pendidikan sekolah dasarnya ditempuh di dusunnya, kemudian dia melanjutkan ke SMP Kanisius Sleman dan SMA Bopkri I. Setelah lulus pada tahun 1970, Linus melanjutkan studinya di jurusan Bahasa Inggris ABA dan IKIP Sanata Dharma, namun keduanya tidak tamat. Linus mempelajari berbagai ilmu lainnya secara otodidak.
Pada tahun 1970, Linus mulai
menulis puisi dan esai ketika bergabung dalam Persada Klub di surat kabar
mingguan Pelopor Yogya yang ditangani penyair asal Pulau Sumba, Umbu Landu
Paranggi. Pada tahun 1979-1986, ia menjadi redaktur kebudayaan surat kabar
''Berita Nasional'' di Yogyakarta. Linus sering terlibat dalam penelitian
secara informal dan formal, terutama yang berkaitan dengan masalah kebudayaan.
Menjadi anggota Dewan Kesenian Yogyakarta selama 3 periode pada tahun
1986-1996. Pemimpin redaksi jurnal kebudayaan Citra Yogya yang diterbitkan
Dewan Kesenian Yogyakarta, 1987 - 1999.
Pada tahun 1982, Linus
mengikuti Program Menulis Internasional di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika
Serikat. Pernah mengikuti The Indonesian Cultural Festival, di London, bersama
sejumlah penyair Indonesia, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Taufiq
Ismail, Eka Budianta, Toeti Heraty, dan Edi Sedyawati pada tahun 1990.
Linus dikenal banyak
menggunakan kata dan ungkapan Jawa dalam karya sastranya. Mengambil Pengakuan
Pariyem sebagai bahan ulasan, kritikus Subagio Sastrowardojo menilai bahwa
pemakaian kata daerah oleh Linus sudah mencapai tahap ekstrem. Linus sendiri
berdalih bahwa ia sehari-harinya lebih banyak berbahasa Jawa, sedangkan
kemampuan bahasa Indonesianya masih kurang. Sehingga tulisnya dalam majalah
Optimis, Juni 1983, "Tak selalu kena atau pas apabila saya hanya
menggantungkan pada kosa kata bahasa Indonesia
Linus mempelajari berbagai
ilmu lainnya secara otodidak tentang menulis puisi dan esai ketika bergabung
dalam Persada Klub di surat kabar meingguan Pelopor di Yogyakartadan pernah
bekerja sebagai redaktur kebudayaan pada harian Berita Nasional (1979-1986) di
Yogyakarta juga. Selain itu juga pernah aktif dalam Dewan Kesenian Yogyakarta
antara tahun 1986-1988. Ia juga menjadi pemimpin redaksi majalah Citra Yogya
pada tahun 1987-1999. Pada tahun itu pula beliau mengikuti Program Menulis
Internasional di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat
BAGI masyarakat sastra
Indonesia, Linus Suryadi AG dikenal sebagai penyair lirik. Ini dapat dilihat
melalui puisi-puisi liriknya yang terkumpul dalam antologi tunggalnya: Rumah
Panggung (Nusa Indah, Ende-Flores, 1986) dan Kembang Tanjung (Nusa Indah, Ende Flores,
1988).
Di samping berhelat dengan
puisi, penyair yang mengeditori Antologi Puisi 32 Penyair Yogyakarta ‘Tugu’
(DKY dan Barata Offset, 1986) dan Antologi Puisi Indonesia Modern ‘Tonggak’, 4
jilid (Gramedia, Jakarta 1987) tersebut banyak berhelat dengan karya esai,
antara lain: Regol Megal-Megol (Andi Offset, Yogyakarta 1992), Nafas Budaya
Yogya (Bentang Budaya Yogyakar-ta, 1994), Dari Pujangga dan Penulis Jawa
(Pustaka Pelajar, Yogyakarta 1995) dll.
Melalui persepsi dari publik
dikatakan bahwa prosa lirik ‘Pengakuan Pariyem’ (Pustaka Sinar Harapan Jakarta,
1981) merupakan karya masterpiece-nya. Hingga karya tersebut di-Belanda-kan ke
dalam De Bekentenk van Pariyem oleh Marjanne Fermorhuizen (Manuc Amici.
Amsterdam, Belanda 1985). Atas dukungan UNESCO, karya tersebut pula
di-Perancis-kan ke dalam Les Confession de Pariyem oleh Dr. Henri Chambert-Loir
dan di-Inggris-kan ke dalam Pariyem’s Confession oleh Mary-Lindsay.
Melalui prosa lirik
Pengakuan Pariyem, dapat dikatakan bahwa Alm. Linus memiliki perhatian besar terhadap kehidupan
wanita. Di samping itu, perhatian Linus terhadap kehidupan wanita tercermin
lewat karya-karya puisinya. Kehidupan wanita yang tidak hanya dari kelas
menengah atau elite, melainkan kelas bawah dengan berbagai berprofesinya.
Kumpulan puisi
Langit Kelabu (1976)
Pengakuan Pariyem: Dunia
batin seorang wanita Jawa (1981)(prosa lirik)
Perkutut Manggung (1986)
Kembang Tanjung (1989)
Rumah Panggung (1989)
Nafas Budaya Yogya (1994)
Tirta Kamandanu (1997)
Tugu sebagai penyunting
antologi puisi 32 penyair Yogyakarta (1986)
Tonggak: antologi puisi
Indonesia modern sebagai penyunting 4 jilid buku (1987)
Karya-karyanya juga dimuat
dalam beberapa antologi, yakni Laut biru langit biru (penyunting Ajip Rosidi
(1977), Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang penyunting Pamusuk Eneste (1986)
Pesta Emas Sastra Jawa
Daerah Istimewa Yogyakarta (sebagai penyunting bersama Danu Priyo Wibowo, 1996)
Esai
Dari Desa Ke Kota (1986)
Kesaksian di Pinggir (1993)
Regol Megal Megol Fenomena
Kosmogoni Jawa (1993)
Dari Pujangga Jawa ke
Penulis Jawa (1995)
Subscribe to:
Posts (Atom)





















