Wattpad

Sunday, September 20, 2015

Linus Suryadi



Linus Suryadi merupakan anak kedua dari sepuluh bersaudara yang berasal dari keluarga petani Jawa. Pendidikan sekolah dasarnya ditempuh di dusunnya, kemudian dia melanjutkan ke SMP Kanisius Sleman dan SMA Bopkri I. Setelah lulus pada tahun 1970, Linus melanjutkan studinya di jurusan Bahasa Inggris ABA dan IKIP Sanata Dharma, namun keduanya tidak tamat. Linus mempelajari berbagai ilmu lainnya secara otodidak.

Pada tahun 1970, Linus mulai menulis puisi dan esai ketika bergabung dalam Persada Klub di surat kabar mingguan Pelopor Yogya yang ditangani penyair asal Pulau Sumba, Umbu Landu Paranggi. Pada tahun 1979-1986, ia menjadi redaktur kebudayaan surat kabar ''Berita Nasional'' di Yogyakarta. Linus sering terlibat dalam penelitian secara informal dan formal, terutama yang berkaitan dengan masalah kebudayaan. Menjadi anggota Dewan Kesenian Yogyakarta selama 3 periode pada tahun 1986-1996. Pemimpin redaksi jurnal kebudayaan Citra Yogya yang diterbitkan Dewan Kesenian Yogyakarta, 1987 - 1999.

Pada tahun 1982, Linus mengikuti Program Menulis Internasional di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Pernah mengikuti The Indonesian Cultural Festival, di London, bersama sejumlah penyair Indonesia, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Taufiq Ismail, Eka Budianta, Toeti Heraty, dan Edi Sedyawati pada tahun 1990.

Linus dikenal banyak menggunakan kata dan ungkapan Jawa dalam karya sastranya. Mengambil Pengakuan Pariyem sebagai bahan ulasan, kritikus Subagio Sastrowardojo menilai bahwa pemakaian kata daerah oleh Linus sudah mencapai tahap ekstrem. Linus sendiri berdalih bahwa ia sehari-harinya lebih banyak berbahasa Jawa, sedangkan kemampuan bahasa Indonesianya masih kurang. Sehingga tulisnya dalam majalah Optimis, Juni 1983, "Tak selalu kena atau pas apabila saya hanya menggantungkan pada kosa kata bahasa Indonesia
Linus mempelajari berbagai ilmu lainnya secara otodidak tentang menulis puisi dan esai ketika bergabung dalam Persada Klub di surat kabar meingguan Pelopor di Yogyakartadan pernah bekerja sebagai redaktur kebudayaan pada harian Berita Nasional (1979-1986) di Yogyakarta juga. Selain itu juga pernah aktif dalam Dewan Kesenian Yogyakarta antara tahun 1986-1988. Ia juga menjadi pemimpin redaksi majalah Citra Yogya pada tahun 1987-1999. Pada tahun itu pula beliau mengikuti Program Menulis Internasional di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat

BAGI masyarakat sastra Indonesia, Linus Suryadi AG dikenal sebagai penyair lirik. Ini dapat dilihat melalui puisi-puisi liriknya yang terkumpul dalam antologi tunggalnya: Rumah Panggung (Nusa Indah, Ende-Flores, 1986) dan Kembang Tanjung (Nusa Indah, Ende Flores, 1988).

Di samping berhelat dengan puisi, penyair yang mengeditori Antologi Puisi 32 Penyair Yogyakarta ‘Tugu’ (DKY dan Barata Offset, 1986) dan Antologi Puisi Indonesia Modern ‘Tonggak’, 4 jilid (Gramedia, Jakarta 1987) tersebut banyak berhelat dengan karya esai, antara lain: Regol Megal-Megol (Andi Offset, Yogyakarta 1992), Nafas Budaya Yogya (Bentang Budaya Yogyakar-ta, 1994), Dari Pujangga dan Penulis Jawa (Pustaka Pelajar, Yogyakarta 1995) dll.

Melalui persepsi dari publik dikatakan bahwa prosa lirik ‘Pengakuan Pariyem’ (Pustaka Sinar Harapan Jakarta, 1981) merupakan karya masterpiece-nya. Hingga karya tersebut di-Belanda-kan ke dalam De Bekentenk van Pariyem oleh Marjanne Fermorhuizen (Manuc Amici. Amsterdam, Belanda 1985). Atas dukungan UNESCO, karya tersebut pula di-Perancis-kan ke dalam Les Confession de Pariyem oleh Dr. Henri Chambert-Loir dan di-Inggris-kan ke dalam Pariyem’s Confession oleh Mary-Lindsay.
Melalui prosa lirik Pengakuan Pariyem, dapat dikatakan bahwa Alm. Linus  memiliki perhatian besar terhadap kehidupan wanita. Di samping itu, perhatian Linus terhadap kehidupan wanita tercermin lewat karya-karya puisinya. Kehidupan wanita yang tidak hanya dari kelas menengah atau elite, melainkan kelas bawah dengan berbagai berprofesinya.


Kumpulan puisi

Langit Kelabu (1976)
Pengakuan Pariyem: Dunia batin seorang wanita Jawa (1981)(prosa lirik)
Perkutut Manggung (1986)
Kembang Tanjung (1989)
Rumah Panggung (1989)
Nafas Budaya Yogya (1994)
Tirta Kamandanu (1997)
Tugu sebagai penyunting antologi puisi 32 penyair Yogyakarta (1986)
Tonggak: antologi puisi Indonesia modern sebagai penyunting 4 jilid buku (1987)
Karya-karyanya juga dimuat dalam beberapa antologi, yakni Laut biru langit biru (penyunting Ajip Rosidi (1977), Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang penyunting Pamusuk Eneste (1986)
Pesta Emas Sastra Jawa Daerah Istimewa Yogyakarta (sebagai penyunting bersama Danu Priyo Wibowo, 1996)









Esai

Dari Desa Ke Kota (1986)
Kesaksian di Pinggir (1993)
Regol Megal Megol Fenomena Kosmogoni Jawa (1993)

Dari Pujangga Jawa ke Penulis Jawa (1995)