Linus Suryadi merupakan anak kedua dari sepuluh bersaudara yang berasal dari keluarga petani Jawa. Pendidikan sekolah dasarnya ditempuh di dusunnya, kemudian dia melanjutkan ke SMP Kanisius Sleman dan SMA Bopkri I. Setelah lulus pada tahun 1970, Linus melanjutkan studinya di jurusan Bahasa Inggris ABA dan IKIP Sanata Dharma, namun keduanya tidak tamat. Linus mempelajari berbagai ilmu lainnya secara otodidak.
Pada tahun 1970, Linus mulai
menulis puisi dan esai ketika bergabung dalam Persada Klub di surat kabar
mingguan Pelopor Yogya yang ditangani penyair asal Pulau Sumba, Umbu Landu
Paranggi. Pada tahun 1979-1986, ia menjadi redaktur kebudayaan surat kabar
''Berita Nasional'' di Yogyakarta. Linus sering terlibat dalam penelitian
secara informal dan formal, terutama yang berkaitan dengan masalah kebudayaan.
Menjadi anggota Dewan Kesenian Yogyakarta selama 3 periode pada tahun
1986-1996. Pemimpin redaksi jurnal kebudayaan Citra Yogya yang diterbitkan
Dewan Kesenian Yogyakarta, 1987 - 1999.
Pada tahun 1982, Linus
mengikuti Program Menulis Internasional di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika
Serikat. Pernah mengikuti The Indonesian Cultural Festival, di London, bersama
sejumlah penyair Indonesia, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Taufiq
Ismail, Eka Budianta, Toeti Heraty, dan Edi Sedyawati pada tahun 1990.
Linus dikenal banyak
menggunakan kata dan ungkapan Jawa dalam karya sastranya. Mengambil Pengakuan
Pariyem sebagai bahan ulasan, kritikus Subagio Sastrowardojo menilai bahwa
pemakaian kata daerah oleh Linus sudah mencapai tahap ekstrem. Linus sendiri
berdalih bahwa ia sehari-harinya lebih banyak berbahasa Jawa, sedangkan
kemampuan bahasa Indonesianya masih kurang. Sehingga tulisnya dalam majalah
Optimis, Juni 1983, "Tak selalu kena atau pas apabila saya hanya
menggantungkan pada kosa kata bahasa Indonesia
Linus mempelajari berbagai
ilmu lainnya secara otodidak tentang menulis puisi dan esai ketika bergabung
dalam Persada Klub di surat kabar meingguan Pelopor di Yogyakartadan pernah
bekerja sebagai redaktur kebudayaan pada harian Berita Nasional (1979-1986) di
Yogyakarta juga. Selain itu juga pernah aktif dalam Dewan Kesenian Yogyakarta
antara tahun 1986-1988. Ia juga menjadi pemimpin redaksi majalah Citra Yogya
pada tahun 1987-1999. Pada tahun itu pula beliau mengikuti Program Menulis
Internasional di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat
BAGI masyarakat sastra
Indonesia, Linus Suryadi AG dikenal sebagai penyair lirik. Ini dapat dilihat
melalui puisi-puisi liriknya yang terkumpul dalam antologi tunggalnya: Rumah
Panggung (Nusa Indah, Ende-Flores, 1986) dan Kembang Tanjung (Nusa Indah, Ende Flores,
1988).
Di samping berhelat dengan
puisi, penyair yang mengeditori Antologi Puisi 32 Penyair Yogyakarta ‘Tugu’
(DKY dan Barata Offset, 1986) dan Antologi Puisi Indonesia Modern ‘Tonggak’, 4
jilid (Gramedia, Jakarta 1987) tersebut banyak berhelat dengan karya esai,
antara lain: Regol Megal-Megol (Andi Offset, Yogyakarta 1992), Nafas Budaya
Yogya (Bentang Budaya Yogyakar-ta, 1994), Dari Pujangga dan Penulis Jawa
(Pustaka Pelajar, Yogyakarta 1995) dll.
Melalui persepsi dari publik
dikatakan bahwa prosa lirik ‘Pengakuan Pariyem’ (Pustaka Sinar Harapan Jakarta,
1981) merupakan karya masterpiece-nya. Hingga karya tersebut di-Belanda-kan ke
dalam De Bekentenk van Pariyem oleh Marjanne Fermorhuizen (Manuc Amici.
Amsterdam, Belanda 1985). Atas dukungan UNESCO, karya tersebut pula
di-Perancis-kan ke dalam Les Confession de Pariyem oleh Dr. Henri Chambert-Loir
dan di-Inggris-kan ke dalam Pariyem’s Confession oleh Mary-Lindsay.
Melalui prosa lirik
Pengakuan Pariyem, dapat dikatakan bahwa Alm. Linus memiliki perhatian besar terhadap kehidupan
wanita. Di samping itu, perhatian Linus terhadap kehidupan wanita tercermin
lewat karya-karya puisinya. Kehidupan wanita yang tidak hanya dari kelas
menengah atau elite, melainkan kelas bawah dengan berbagai berprofesinya.
Kumpulan puisi
Langit Kelabu (1976)
Pengakuan Pariyem: Dunia
batin seorang wanita Jawa (1981)(prosa lirik)
Perkutut Manggung (1986)
Kembang Tanjung (1989)
Rumah Panggung (1989)
Nafas Budaya Yogya (1994)
Tirta Kamandanu (1997)
Tugu sebagai penyunting
antologi puisi 32 penyair Yogyakarta (1986)
Tonggak: antologi puisi
Indonesia modern sebagai penyunting 4 jilid buku (1987)
Karya-karyanya juga dimuat
dalam beberapa antologi, yakni Laut biru langit biru (penyunting Ajip Rosidi
(1977), Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang penyunting Pamusuk Eneste (1986)
Pesta Emas Sastra Jawa
Daerah Istimewa Yogyakarta (sebagai penyunting bersama Danu Priyo Wibowo, 1996)
Esai
Dari Desa Ke Kota (1986)
Kesaksian di Pinggir (1993)
Regol Megal Megol Fenomena
Kosmogoni Jawa (1993)
Dari Pujangga Jawa ke
Penulis Jawa (1995)






