Wattpad

Sunday, October 4, 2015

Biografi

Nama saya Gholzar Harizt. Saya lahir di Jakarta tanggal 11 Juni 1994, tepat pada malam 1 Muharram. Entah merasa special atau tidak tetapi saya senang saja, karena saya lahir pada saat tahun baru islam. Saya lahir disebuah Bidan didaerah Jakarta. Ayah saya Zakaria Rachmat asli Pekalongan, Jawa Tengah. Dan Ibu saya Tati Hartati asli Tegal, Jawa Tengah. Jadi kalau kami pulang kampong pada saat lebaran itu kampungnya bersebelahan. Waktu kecil saya bersekolah di Sekolah Dasar Islam Darunnajah. Dari tahun 2000 sampai pada tahun 2009. Saya belum punya kisah apa-apa waktu di Sekolah Dasar, kecuali hafalan surat-surat pendek Al-quran. Dari Sekolah Dasar saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama 161 Sekolah Standar Nasional Jakarta Selatan. Suatu kebanggaan untuk orang tua saya, karena pada jaman itu untuk melanjutkan step dari sekolah swasta ke sekolah negeri sangatlah susah dan peluangnya kecil. 

Selain terkenal dengan prestasinya SMP saya juga sering tawuran. Dikenal sebagai sekolah yang disegani di Jakarta Selatan pada jamannya. Karena biasanya kebanyakan anak yang ada d SMP ini di tes keberaniannya dengan berkelahi man to man secara bergantian. Tetapi tidak semua anak yang ada di basis seperti itu, termasuk salah satunya saya. Ya saya termasuk yang pendiam. Walaupun pada akhirnya saya sempat nakal juga dan hampir tidak naik kelas pada kelas 2 SMP. Dan ketika kelas 3 SMP saya mendapatkan teman-teman yang hampir benar, mungkin karena sudah kelas 3 dan ingin Ujian Nasional, jadi mau tidak mau kami harus kembali ke jalan yang benar. Hampir selama satu tahun kami bermain bersama, dan kami harus berpisah karena pendidikan yang kami tempuh di SMP sudah selesai. Lalu setelah itu saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas 101 Jakarta Barat. Alasan saya simple mengapa saya memilih SMA ini, karena angkanya yg ditengah itu unik pergantian dari 161 ke 101. 

Dari pertama kali masuk pun hanya saya yang berasal dari SMP 161 JakSel, saya tidak punya teman. Dengan datang pagi-pagi buta melihat kaka-kaka yang bersiap untuk MOS, saya memberanikan diri untuk berkenalan dengan salah satu anak baru, dan sayangnya itu cowok, jadi saya terkesan aneh ketika saya berkenalan dengan dia. Dari awal SMA pun saya mengenal Teater. Saya mengikuti ekskul Teater dari kelas 1. Latihan tiap hari, pulang malam, ditelfon orang tua, dimarahi orang tua, ngeliatin teman ada yang kesurupan malam malam, sampai dukunciin dilantai 2 akibat terlalu malam untuk selesai latihan, dan akhirnya sampai diganggu oleh makhluk-makhluk penunggu sekolah. Asam manis pahit sudah saya lewati di grup teater sma saya. Kehilangan teman-teman karena banyak yang dimarahi, karena malas, karena alasan lain, itu sudah sering. Tapi entah kenapa saya tidak punya alasan untuk bertahan di grup teater saya. Sampai pada akhirnya saya kecewa dengan salah satu senior di grup tersebut, karena masalah cewe. Itu kejadiannya pada saat DIKLAT ALAM terakhir di grup teater kami. Dan setelah saya kelas 3 saya mengharuskan diri untuk lagi lagi focus ke Ujian Nasional dan lagi lagi kembali ke jalan yang benar. Sungguh mengecewakan, tetapi saya tahu Tuhan selalu punya rencana. Salah satu mata pelajaran mendapatkan nilai 3. Pada hari itu saya sangat patah semangat. Saya seakan merasa sangat menyesal sekali. Tetapi saya disupport oleh teman teman saya, dan akhirnya saya bisa melanjutkan untuk kuliah di Universitas Mercu Buana jurusan Broadcasting. 

Dan lagi-lagi saya memutuskan untuk mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa yang berbau Teater. Tetapi di grup teater kampus saya merasakan yang sebenar benarnya Teater. Disini lebih kejam, tapi membuat pintar. LATIHAN dan RAPAT, itu kesan yang masih membekas dikepala saya sampai saat ini untuk UKM tersebut. Saya merasa berterima kasih kepada beberapa abang-abang dan kaka-kaka yang sudah membuat saya semakin pintar. Akhirnya dengan bekal ilmu yang saya dapat dikampus saya kembali lagi ke grup teater SMA yang kondisinya sangat mengkhawatirkan. Akhirnya setelah mengobrol dengan anak sisaan yang bertahan di grup tersebut, kami memutuskan untuk mengikuti proses Festival kembali, dibantu oleh sahabat saya Friska dan Aftah. Saat itu kami benar-benar hanya bertiga untuk menggarap mereka semua. Proses Festival Teater SLTA ke-24 pun telah kami lewati, tetapi kami belum mendapatkan apa-apa, kami hanya mendapatkan pengalaman dan beberapa teman teman teater. Dan kami bertiga akhirnya diakui di grup tersebut oleh para senior-senior kami. Tidak berhenti sampai disitu, difestival selanjutnya di Festival Teater SLTA ke-25 kami mengikutkan diri kembali. Kali ini suka duka saya pribadi lebih banyak, ketika diawal proses kedua sahabat saya sedang sibuk-sibuknya mengurusi urusan yang lain. Ketika hari kurasi dimulai, ini pertama kalinya saya berangkat seorang diri tanpa kedua sahabat saya. Sedih memang, rasanya saya yang paling tua diantara para adik-adik sma, tetapi tanggung jawab sudah ditangan, sebagai seorang sutradara saya harus terus berjuang sampai akhir. Ketika pengumuman kurasi pun saya harus mencari uang ke Jogja dengan teman saya. Yang datang adalah mereka para adik-adik teater SMA. Dan Alhamdulillah kami bisa lolos ke final lagi. Dan Alhamdulillah pada tahun ini, pada FTS ke-25 ini, kami mendapatkan kepercayaan untuk mendapatkan sebuah piala, pemenang Tata Rias Terbaik se-Jabodetabek. Mungkin piala ini adalah bukti dari grup kami yang telah berjuang selama 6 tahun, dan setelahnya kami baru bisa mendapatkan sebuah piala.


Festival Teater SLTA ke-24







Festival Teater SLTA ke-25











Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan untuk biografi saya, bila ada cerita yang saya ingat lagi, saya akan ketik lagi, terima kasih.