Nama saya Gholzar Harizt. Saya lahir
di Jakarta tanggal 11 Juni 1994, tepat pada malam 1 Muharram. Entah merasa special
atau tidak tetapi saya senang saja, karena saya lahir pada saat tahun baru
islam. Saya lahir disebuah Bidan didaerah Jakarta. Ayah saya Zakaria Rachmat
asli Pekalongan, Jawa Tengah. Dan Ibu saya Tati Hartati asli Tegal, Jawa
Tengah. Jadi kalau kami pulang kampong pada saat lebaran itu kampungnya
bersebelahan. Waktu kecil saya bersekolah di Sekolah Dasar Islam Darunnajah. Dari
tahun 2000 sampai pada tahun 2009. Saya belum punya kisah apa-apa waktu di
Sekolah Dasar, kecuali hafalan surat-surat pendek Al-quran. Dari Sekolah Dasar
saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama 161 Sekolah Standar Nasional
Jakarta Selatan. Suatu kebanggaan untuk orang tua saya, karena pada jaman itu
untuk melanjutkan step dari sekolah swasta ke sekolah negeri sangatlah susah
dan peluangnya kecil.
Selain terkenal dengan prestasinya SMP saya juga sering
tawuran. Dikenal sebagai sekolah yang disegani di Jakarta Selatan pada
jamannya. Karena biasanya kebanyakan anak yang ada d SMP ini di tes
keberaniannya dengan berkelahi man to man
secara bergantian. Tetapi tidak semua anak yang ada di basis seperti itu,
termasuk salah satunya saya. Ya saya termasuk yang pendiam. Walaupun pada
akhirnya saya sempat nakal juga dan hampir tidak naik kelas pada kelas 2 SMP. Dan
ketika kelas 3 SMP saya mendapatkan teman-teman yang hampir benar, mungkin
karena sudah kelas 3 dan ingin Ujian Nasional, jadi mau tidak mau kami harus
kembali ke jalan yang benar. Hampir selama satu tahun kami bermain bersama, dan
kami harus berpisah karena pendidikan yang kami tempuh di SMP sudah selesai. Lalu
setelah itu saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas 101 Jakarta Barat. Alasan
saya simple mengapa saya memilih SMA ini, karena angkanya yg ditengah itu unik
pergantian dari 161 ke 101.
Dari pertama kali masuk pun hanya saya yang berasal
dari SMP 161 JakSel, saya tidak punya teman. Dengan datang pagi-pagi buta
melihat kaka-kaka yang bersiap untuk MOS, saya memberanikan diri untuk
berkenalan dengan salah satu anak baru, dan sayangnya itu cowok, jadi saya
terkesan aneh ketika saya berkenalan dengan dia. Dari awal SMA pun saya
mengenal Teater. Saya mengikuti ekskul Teater dari kelas 1. Latihan tiap hari,
pulang malam, ditelfon orang tua, dimarahi orang tua, ngeliatin teman ada yang
kesurupan malam malam, sampai dukunciin dilantai 2 akibat terlalu malam untuk
selesai latihan, dan akhirnya sampai diganggu oleh makhluk-makhluk penunggu
sekolah. Asam manis pahit sudah saya lewati di grup teater sma saya. Kehilangan
teman-teman karena banyak yang dimarahi, karena malas, karena alasan lain, itu
sudah sering. Tapi entah kenapa saya tidak punya alasan untuk bertahan di grup
teater saya. Sampai pada akhirnya saya kecewa dengan salah satu senior di grup
tersebut, karena masalah cewe. Itu kejadiannya pada saat DIKLAT ALAM terakhir
di grup teater kami. Dan setelah saya kelas 3 saya mengharuskan diri untuk lagi
lagi focus ke Ujian Nasional dan lagi lagi kembali ke jalan yang benar. Sungguh
mengecewakan, tetapi saya tahu Tuhan selalu punya rencana. Salah satu mata
pelajaran mendapatkan nilai 3. Pada hari itu saya sangat patah semangat. Saya seakan
merasa sangat menyesal sekali. Tetapi saya disupport oleh teman teman saya, dan
akhirnya saya bisa melanjutkan untuk kuliah di Universitas Mercu Buana jurusan
Broadcasting.
Dan lagi-lagi saya memutuskan untuk mengikuti Unit Kegiatan
Mahasiswa yang berbau Teater. Tetapi di grup teater kampus saya merasakan yang
sebenar benarnya Teater. Disini lebih kejam, tapi membuat pintar. LATIHAN dan
RAPAT, itu kesan yang masih membekas dikepala saya sampai saat ini untuk UKM
tersebut. Saya merasa berterima kasih kepada beberapa abang-abang dan kaka-kaka
yang sudah membuat saya semakin pintar. Akhirnya dengan bekal ilmu yang saya
dapat dikampus saya kembali lagi ke grup teater SMA yang kondisinya sangat
mengkhawatirkan. Akhirnya setelah mengobrol dengan anak sisaan yang bertahan di
grup tersebut, kami memutuskan untuk mengikuti proses Festival kembali, dibantu
oleh sahabat saya Friska dan Aftah. Saat itu kami benar-benar hanya bertiga
untuk menggarap mereka semua. Proses Festival Teater SLTA ke-24 pun telah kami
lewati, tetapi kami belum mendapatkan apa-apa, kami hanya mendapatkan
pengalaman dan beberapa teman teman teater. Dan kami bertiga akhirnya diakui di
grup tersebut oleh para senior-senior kami. Tidak berhenti sampai disitu,
difestival selanjutnya di Festival Teater SLTA ke-25 kami mengikutkan diri
kembali. Kali ini suka duka saya pribadi lebih banyak, ketika diawal proses
kedua sahabat saya sedang sibuk-sibuknya mengurusi urusan yang lain. Ketika hari
kurasi dimulai, ini pertama kalinya saya berangkat seorang diri tanpa kedua
sahabat saya. Sedih memang, rasanya saya yang paling tua diantara para
adik-adik sma, tetapi tanggung jawab sudah ditangan, sebagai seorang sutradara
saya harus terus berjuang sampai akhir. Ketika pengumuman kurasi pun saya harus
mencari uang ke Jogja dengan teman saya. Yang datang adalah mereka para
adik-adik teater SMA. Dan Alhamdulillah kami bisa lolos ke final lagi. Dan Alhamdulillah
pada tahun ini, pada FTS ke-25 ini, kami mendapatkan kepercayaan untuk
mendapatkan sebuah piala, pemenang Tata Rias Terbaik se-Jabodetabek. Mungkin piala
ini adalah bukti dari grup kami yang telah berjuang selama 6 tahun, dan
setelahnya kami baru bisa mendapatkan sebuah piala.
Mungkin itu saja yang bisa saya
ceritakan untuk biografi saya, bila ada cerita yang saya ingat lagi, saya akan
ketik lagi, terima kasih.





